GEREJA KATOLIK ST. PADRE PIO STASI POTENG


Senin, 28 Maret 2016

PERAYAAN MISA MALAM PASKAH 2016 DI GEREJA GUNUNG POTENG SINGKAWANG TIMUR

PERAYAAN MISA MALAM PASKAH 2016 DI GEREJA GUNUNG POTENG SINGKAWANG TIMUR

Perayaan Malam Paskah 2016 Di Gereja Santo Padre Pio Gunung Poteng Singkawang Timur

Poteng Sip.  Hari ini, sabtu 26 Maret 2016, umat Gereja Stasi Santo Padre Pio Gunung Poteng merayakan perayaan Malam Paskah atau Vigili. Acara berlangsung cukup lama yang dimulai pukul 18.30 WIB dan berakhir pukul 21.00 WIB. Tema perayaan Paskah tahun 2016 ini adalah "Bergerak Dan Berjuanglah Berani Mempertahankan Dan Memperjuangkan Kalimantan Baru". Malam ini adalah puncak dari rangkaian pekan suci, yaitu: Minggu Palma, Kamis Putih, Jum`at Agung, dan Paskah. Sebelumnya, Puncak Paskah diawali dengan masa Prapaskah selama 40 hari, dimana pada masa tersebut umat Katolik diwajibkan untuk pantang dan puasa.
Sebelumnya pada pukul 17.30 WIB, daerah gunung Poteng dan sekitarnya sempat diguyur hujan lebat. Puji Tuhan, pada pukul 18.30 WIB, hujan reda sehingga umat Gereja Poteng bisa memulai ibadah. Ibadah Misa / Perayaan Ekaristi Malam Paskah ini dipimpin oleh Pastor Felix Triyono, OFMCap. Pada pukul 18.30 WIB, rangkaian ibadah Malam Paskah dimulai dengan upacara cahaya di depan Gereja Novisiat Poteng atau dikenal Biara Kapusin Poteng. Makna dari upacara cahaya adalah kebangkitan Kristus mengalahkan kegelapan di dunia. Kegelapan tidak berkuasa kembali. Kristus adalah alfa dan omega, awal dan akhir di dunia ini. Dalam upacara cahaya ini, ada pemberkatan api yang digunakan untuk penyalaan lilin Paskah. Lilin merupakan simbol pengorbanan untuk menerangi tempat di sekitarnya. Selanjutnya lilin Paskah diarak masuk menuju Gereja. Lalu, dilantumkan Madah Pujian Paskah. Pada Misa Malam Paskah ini dibacakan 6 bacaan Alkitab, yaitu: 4 perjanjian lama,dan 2 perjanjian baru. Dari masing-masing bacaan tersebut, ada jeda lagu / mazmur tanggapan. Dalam kotbah / homilinya, Pastor Felix Triyono, OFMCap, atau akrab dengan panggialan Pastor Felix mengatakan bahwa banyak orang mengalami kekecewaan dalam hidup ini. Dalam menghadapi kekecewaan tersebut, ada yang bangkit dan ada juga yang putus asa. Demikian juga, saat Yesus wafat di salib, para murid tidak berpengharapan lagi. Satu-satunya pribadi yang mereka harapkan, sudah wafat. Namun, kebangkitan Yesus membawa pengharan baru bagi para murid. Yesus yang dibangkitkan oleh Allah, menjadi jaminan keselamatan kita bersama.
Setelah homili selesai, dilanjutkan dengan pembaharuan janji baptis. Dimana saat itu, umat diajak untuk menyegarkan kembali janji baptis yang pernah diucapkan saat pertama kali dibaptis. Lalu, sambil memegang lilin yang menyala, umat direciki dengan air baptis oleh Imam. Iman umat makin disegarkan dan diteguhkan dengan upacara ini. Lalu, dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi. Umat yang hadir tampak khusuk dalam mengikuti seluruh rangkaian malam Paskah ini meskipun rangkaian acara cukup panjang. Misa malam ini juga disemarakkan oleh paduan koor dengan lagu-lagu yang menawan sehingga menambah kemeriahan upacara Malam Paskah. Selamat Paskah bagi kita semua. Tuhan memberkati kita semua.
(Eko Heru Nugroho)


 






Senin, 21 Maret 2016

PERAYAAN MINGGU PALMA 2016 DI GEREJA SANTO PADRE PIO POTENG SINGKAWANG

PERAYAAN MINGGU PALMA 2016 DI GEREJA SANTO PADRE PIO POTENG SINGKAWANG

Perayaan Minggu Palma 2016 Di Gereja Santo Padre Pio Poteng Singkawang


Poteng Sip. Hari minggu 20 Maret 2016 yang cerah ini, umat Gereja Katolik Santo Padre Pio Poteng dan sekitarnya merayakan perayaan Minggu Palma. Misa Minggu Palma ini secara khusus dipimpin oleh Pastor Crispinus, OFMCap, Pastor Paroki Nyarumkop. Minggu Palma merupakan awal rangkaian pekan suci dan awal kisah sengsara Tuhan Yesus menuju kota Yerusalem. Misa Minggu Palma ini cukup panjang, yaitu sekitar 2 jam yang dimulai tepat pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 09.00 WIB. Misa diawali di tong / bak air dengan bacaan Injil dan homili singkat, serta pemberkatan daun palma. Lalu, daun palma dibagikan ke seluruh umat. Dilanjutkan dengan perarakan menuju Gereja sambil membawa daun palma dan menyanyikan lagu "Yerusalem, Lihatlah Rajamu". Umat dengan tertib dan rapi memasuki Gereja. Lalu, diteruskan dengan perayaan Ekaristi di Gereja. Dalam Misa di Gereja ini, ada acara khusus, yaitu: pembacaan pasio. Pasio merupakan kisah sengsara Tuhan Yesus. Pasio dibacakan oleh 6 orang petugas yang telah ditunjuk. Dalam Misa ini, umat yang hadir, sangat banyak. Kursi di Gereja terisi penuh. Bahkan, roti hosti sampai kehabisan sehingga ada beberapa umat yang tidak kebagian roti hosti. Namun, demikian, hal ini tidak mengurangi kekhusukan umat dalam mengenang kisah sengsara Tuhan Yesus. Makna dari perayaan Minggu Palma adalah awal kisah sengsara yang harus dijalani oleh Tuhan Yesus sebelum wafat di salib dan bangkit pada hari ke tiga. Selamat merayakan Minggu Palma. (Eko Heru Nugroho)



Rabu, 16 Maret 2016

Bartolomeus, frater berjambul Neymar.

Bartolomeus, frater berjambul Neymar.

Oleh Welli, 09 Maret 2016

Bartolomeus namanya. Frater yang lebih akrab dengan panggilan Bu'u. Adalah salah satu dari tiga orang biarawan yang saat ini sedang menempuh pendidikan biarawannya di Novisiat Kapusin Stasi Poteng, Singkawang Timur, Kalbar.

Frater yang berasal asli dari flores ini mempunyai makanan kesukaan "tempoyak" yaitu makanan khas suku dayak yang terbuat dari buah durian yang di permentasi dan diolah menjadi lauk.

Model rambut frater ini sangat mirip dengan seorang pemain sepakbola Barcelona FC yaitu "Neymar Jr" yang diakuinya sebagai idolanya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini memiliki hobi berolahraga. Ketertarikannya untuk menjadi seorang Frater/biarawan sangat sederhana, karna iya melihat orang yang mengenakan "jubah" itu keren.

Dari situlah iya memutuskan untuk menjadi seorang biarawan. Dan hingga sekarang Frater Bartolomeus masih menempuh pendidikan biarawannya bersama dua saudara kapusinnya.

Bartolomeus (20), seorang frater berjambul Neymar yang sedang menempuh pendidikan di biara Novisiat Kapusin Padre Pio Poteng, Singkawang, Kalbar.

Jumat, 11 Maret 2016

Horeee, Masuk Koran!

Horeee, Masuk Koran!

Oleh Sv. Endi

Teman-teman, kegiatan pelatihan menulis di Novisiat Kapusin "St Padre Pio" Poteng, dimuat di koran Pontianak Post edisi Jumat (11 Maret 2016). Bagi teman-teman yang mungkin tidak sempat beli korannya, berikut ditampilkan capture-nya.

Mudah-mudah bisa dibaca ya. Ayo, teruslah berlatih, berlatih, dan berlatih menulis. Hanya dengan cara itu, Anda bisa menjadi seorang penulis.

Tak ada jalan pintas. Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya...

Kamis, 10 Maret 2016

PELATIHAN JURNALISTIK, DARI POTENG MENUJU KE PENJURU DUNIA

PELATIHAN JURNALISTIK, DARI POTENG MENUJU KE PENJURU DUNIA

Pelatihan Jurnalistik, Dari Poteng Menuju Ke Penjuru Dunia


Pelatihan jurnalistik di Aula Novisiat Kapusin Poteng
Suasana pelatihan jurnalistik di Aula Novisiat Kapusin Poteng

Poteng Sip. Hari Rabu, 9 Maret 2016 yang tertepatan dengan gerhana matahari dan Hari Raya Nyepi, kami mengikuti pelatihan jurnalistik dengan tema: "Belajar Menulis Bersama" di Biara Novisiat Kapusin Poteng, Singkawang Timur. Acara dimulai pukul 08.30 WIB dan berakhir pukul 15.00 WIB. Pelatihan jurnalistik ini diikuti oleh 20 orang peserta yang terdiri dari: 17 OMK (Orang Muda Katolik) dan 3 Frater Novis Kapusin. Pelatihan ini dibawakan oleh 3 orang wartawan yang sudah berpengalaman, yatu: Mas Endi (Jakarta Post), Mas Andreas (Pontianak Post), dan Mas Budi Miank (Pontianak Post). Pelatihan ini dikemas dengan suasana yang menyenangkan sehingga peserta tampak semangat dan antusias dalam mengikuti seluruh rangkaian acara. Frater Laurens didaulat untuk memimpin lagu rohani dan ditirukan oleh semua peserta. Dengan suasana ini, terkesan tidak terlalu serius dan tegang. Tapi, hal ini justru memberi nilai spiritual yang menyemangati seluruh peserta. Dalam pelatihan ini, 3 orang pembicara memberikan "senjata alat tempur yang ampuh". Mas Endi memberikan 3 hal teknik menulis, yaitu:
1. ADiSiKaMBa (A: Apa yang terjadi, Di: Dimana, Si: Siapa, Ka: Kapan, M: Mengapa, Ba: Bagaimana)
2. Wawancara
3. Pelibatan panca indra dalam menulis
Sedangkan, Mas Andreas memaparkan tentang fotografi.
Ciri-ciri foto jurnalis adalah:
- memeiliki nilai berita / bisa jadi berita itu sendiri
- ada yang disampaikan
Lalu, Mas Budi Miank membahas etika dalam jurnalistik. Seorang penulis seharusnya bertindak dengan melepas identitas (independent) agar hasilnya bagus. Seorang penulis hendaknya menghindari plagiat (copy paste) karena tulisan plagiat tidak akan bermutu. Tetapi, justru akan membuat malu si penulis sendiri. Penulis sebaiknya menulis berita dengan benar, bukan berita bohong / fitnah. Perlu verifikasi data (cek info) agar berita akurat. Perlu juga dihindari penulisan berita sadis / kejam. Seorang penulis tidak hanya pelaku informasi, tetapi juga penyaring informasi.
Ada sesi yang cukup menarik di akhir pelatihan ini, yaitu: menulis bersama di blog yang sudah disediakan. Blog tersebut adalah: www.potengsip.blogspot.com . Dengan blog tersebut, kami diajari untuk menulis bersama dan mempublikasikannya ke internet yang berarti juga bahwa tulisan kami bisa dibaca oleh semua orang dari segala penjuru dunia. Pada jaman globalisasi ini, informasi tidak mengenal batas. Dengan blog tersebut, kami bisa memaparkan gagasan / ide untuk dibaca oleh sebanyak mungkin orang.
Meskipun pelatihan ini singkat, kami mendapatkan banyak ilmu yang sangat berharga dalam dunia jurnalistik. Hidup manusia modern tidak akan lepas dari tulis menulis. Oleh karena itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Endi, Mas Andreas, dan Mas Budi Miank atas keilmuan yang telah diberikan pada kami. Kami tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pastor Gabriel Marcel OFMCap, selaku Magister Novisiat Kapusin Poteng yang telah berbaik hati menyelenggarakan acara ini. Semoga Allah Bapa berkenan membalasnya dengan berkat dan kelimpahan. Amin. Sukses selalu untuk kita semua.
(Eko Heru Nugroho)

Rabu, 09 Maret 2016

Bartolomeus Frater Berambut jambul Neymar

Bartolomeus Frater Berambut jambul Neymar

 Bartolomeus (20), seorang frater berjambul Neymar yang sedang menempuh pendidikan di biara Novisiat Kapusin Padre Pio Poteng, Singkawang, Kalbar.

Oleh: Welli (9/3/16)
Bartolomeus namanya. Frater yang lebih akrab dengan panggilan Bu'u. Adalah salah satu dari tiga orang biarawan yang saat ini sedang menempuh pendidikan biarawannya di Novisiat Kapusin Stasi Poteng, Singkawang Timur, Kalbar.

Frater yang berasal asli dari flores ini mempunyai makanan kesukaan "tempoyak" yaitu makanan khas suku dayak yang terbuat dari buah durian yang di permentasi dan diolah menjadi lauk.
Model rambut frater ini sangat mirip dengan seorang pemain sepakbola Barcelona FC yaitu "Neymar Jr" yang diakuinya sebagai idolanya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini memiliki hobi berolahraga. Ketertarikannya untuk menjadi seorang Frater/biarawan sangat sederhana, karena iya melihat orang yang mengenakan "jubah" itu keren.


Dari situlah iya memutuskan untuk menjadi seorang biarawan. Dan hingga sekarang Frater Bartolomeus masih menempuh pendidikan biarawannya bersama dua saudara kapusinnya.
Bertemu Frater Taus

Bertemu Frater Taus

Oleh: Budi Miank

Saya lebih senang memanggilnya Frater Taus. Lebih akrab saja dengan panggilan itu. Tapi di Biara Novisiat Kapusin Gunung Poteng, dia dipanggil Frater Laurens, yang diambil dari nama lengkapnya Laurensius Hartanto.

Saya bertemu Frater Taus di Biara Novisiat Kapusin Gunung Poteng pada Rabu pagi, 9 Maret 2016, saat sebagian besar orang Indonesia berburu melihat gerhana dan orang-orang Hindu merayakan Nyepi. Di Gunung Poteng, pagi itu, kami tak bisa menikmati gerhana matahari total. Matahari tak hadir di gunung karena mendung yang cenderung gerimis. Bahkan puncak Gunung Poteng tak terlihat karena kabut yang menutupinya.

Oh ya, saya datang ke Biara Novisiat Kapusin Gunung Poteng atas undangan Pastor Gabriel Marcel OFM Cap. Dia mengajak berdiskusi dengan orang muda Katolik dan beberapa frater tentang dunia tulis menulis. Saya datang ditemani dua kawan lain: Severianus Endi dan Basilius Andreas Gas.

Kami tiba di Biara Novisiat Kapusin pukul lima pagi. Endi kemudian menghubungi Pastor Gabriel Marcel OFM Cap, memberitahukan kalau kami sudah tiba di biara. Tak lama berselang, seorang frater datang menghampiri. Kami saling tegur sapa. Para Novis sudah bersiap hendak misa pagi, rutinitas yang selalu mereka lakukan setiap hari. Saya dan dua teman tadi, disambut tiga frater dan tiga pastor.

Saat berjalan menuju kamar istirahat, saya bertemu seseorang yang perawakannya begitu dikenal. Ya, dia Taus. Eh, dia Kenakan jubah coklat, jubah khas kapusin. Saya tidak kaget sebenarnya karena sudah dapat informasi soal pilihannya untuk hidup membiara. Tahun 2015, seorang teman mengabarkan hal itu. Tapi saya tak menduga kalau hari ini bertemu dengannya, setelah tidak berjumpa sejak tamat dari Asrama Sepakat Dua di Pontianak tahun 2001.

Tak ada yang berubah. Kami tetap saling kenal, bahkan cenderung lebih heboh pertemuannya.

"Eh, Taus," kata saya seraya menjabat tangannya.

Dia tersenyum. Lebih pasnya tertawa. Tetap dengan gayanya ketika masih sama-sama di asrama dulu. Yang berubah hanya postur tubuh. Dia sudah agak berisi. Agak gemuk. Kulit lebih putih. Mungkin sudah tidak pernah main sepakbola di lapangan becek di bawah terik matahari.

"Kok masuk kapusin, kan dulu tinggal di asrama MTB," saya menggodanya.

Taus hanya terkekeh. Ia kemudian pamit untuk mengikuti misa pagi. Saya pun masuk ke kamar istirahat. Sekadar meluruskan pinggang.

Foto di atas diambil saat bertemu Frater Taus di Biara Novisiat Kapusin Gunung Poteng pada 9 Maret 2016. (*)

Di Poteng, Kami Belajar Menulis Bersama

Di Poteng, Kami Belajar Menulis Bersama

Oleh: Sv. Endi

Pagi sudah menjelang pukul 05.00 Wib, ketika mobil yang kami tumpangi memasuki area Rumah Novisiat Kapusin "Santo Padre Pio" di kawasan dekat Gunung Poteng di ujung Singkawang, Kalimantan Barat. Kami berangkat dari Pontianak pada pukul 00.00.

Pada subuh begitu, penghuni Rumah Novisiat atau pusat pendidikan calon imam Kapusin itu sedang bersiap untuk misa pagi di kapel mereka. Kelebat sosok mereka dalam balutan jubah cokelat bergerak di subuh yang sejuk.

Hari Rabu, 9 Maret 2016 itu, saya bersama dua rekan jurnalis yaitu Budi Miank dan Bas Andreas dari Pontianak Post, diundang untuk memberikan pelatihan jurnalistik praktis di tempat itu. Sejatinya pada hari ini, ada fenomena alam berupa gerhana matahari yang terjadi sekitar pukul 06.30.

Namun awan yang pekat membuat kami tak bisa menyaksikan fenomena langka ini. Baiklah, kami mau fokus pada kegiatan yang diberi judul "belajar menulis bersama".

Magister Novisiat Kapusin, Pastor Gabriel Marchel OFM Cap, mengundang kami untuk berbagi pengalaman menulis dan fotografi.

Ada 3 pastor dan 3 frater yang tinggal di tempat itu. Usai mereka misa pagi, kami sebagai tamu diajak sarapan di ruang makan yang luas sambil berbincang ringan.

Peserta pelatihan berjumlah 20 orang, 3 di antaranya merupakan frater atau calon pastor dari Ordo Kapusin, dan lainnya adalah anggota organisasi Orang Muda Katolik (OMK) setempat.

Ini merupakan kali pertama saya berkunjung ke tempat ini. Untuk mengenangnya, saya tulis sebuah puisi dengan judul "Subuh Poteng"

Kujumpai Poteng dalam remang subuh
Para lelaki berkelebat dalam jubah cokelat
Kutapaki rumah novosiat dalam remang subuh
Dalam aura sunyi penuh berkat

Aku di Poteng, bisikku pada letih tubuh
Kujumpai pria-pria itu dengan jabat erat
Aku di Poteng, gumamku pada hari yang jauh
Sejenak menyepi dari berisik kota mencekat

Pohon-pohon, embun-embun, dan gunung yang teguh
Rumah tenang di tengah hutan keramat
Kujejaki setiap langkah menghalau jiwa keruh
Di Poteng, aku ingin berjumpa berbongkah semangat

*Rumah Novisiat Kapusin Poteng, Singkawang, Rabu 9.3.16. Poteng adalah nama gunung unik yang puncaknya menyerupai jari jempol.
Aku penasaran dengan kegiatan jurnalistik

Aku penasaran dengan kegiatan jurnalistik

Oleh Victoria Emy

Saya guru matematika. Nama saya Victoria Emy. Umur 22 tahun. 

Saya mengajar di salah satu sekolah swasta di Singkawang. 
 
Saya tertarik mengikuti kegiatan jurnalistik yang diselengarakan di novisiat poteng. 

Saya dari jurusan matematika tapi saya berminat mengikuti kegiatan ini. 

Karena bisa menambah pengalaman baru.

Dan ada beberapa kegiatan yang bisa dijadikan topik Untuk jurnalistik ini.

Misalnya jurnalistik tentang kehidupan warga dilingkungan sekitar.

Gambar diatas teman saya saat sedang membaca tulisan dari kami yang ikut acara pelatihan jurnalistik di Novisiat Biara Poteng (Rabu, 9/03/2016)

Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Selasa, 08 Maret 2016

Di Mana Simpang Poteng

Di Mana Simpang Poteng

Oleh: Budi Miank 

Akhir Februari 2011, kami memulai sesuatu yang baru. Orang bilang, punya dua rumah atau dua dapur. Dua-duanya harus berasap, untuk menyebut bahwa kehidupan ekonomi rumah tangga bertumbuh. 

Kami harus merelakan status sebagai, yang kata anak zaman sekarang, long distance relationship. LDR, begitu anak-anak alay itu membuat akronimnya.

Saya, istri, dan anak-anak harus berpisah. Saya tetap di Pontianak, sedangkan istri dan anak-anak di Nyarumkop. Kami berpisah karena istri bekerja di Rumah Sakit Jiwa Singkawang. 

Jadi, ada dua tahun saya harus bolak balik Pontianak - Nyarumkop. Setiap Sabtu pagi, menunggu jemputan taksi di tangga kantor tempat saya bekerja.

Balik lagi ke Pontianak, pada Senin siang sekitar pukul 13.00, dengan taksi yang sama. Melelahkan memang.

Dan, selama dua tahun itu, saya tak tahu simpang menuju poteng.

Foto di atas diambil saat senja di Nyarumkop.

Senin, 07 Maret 2016

Poteng, Gunung Berpuncak Unik di Kalimantan Barat

Poteng, Gunung Berpuncak Unik di Kalimantan Barat

Gunung Poteng. Foto dari travelmatekamu.com
Ciri khas yang sangat unik yang dimiliki Gunung Poteng ini berupa puncaknya yang dari kejauhan mirip jari jempol. Gunung ini berada di Kalimantan Barat, tepatnya dekat Kota Singkawang.


Selain bentuk puncaknya yang unik itu, gunung memiliki berbagai kekayaan lain yang sangat menarik untuk disaksikan. Ada berbagai tumbuhan indah seperti jenis anggrek, juga ada satwa langka seperti beruang madu, trenggiling, dan landak.


Karena itu, Gunung Poteng menjadi satu di antara tujuan wisata khususnya bagi orang yang suka melakukan jelajah alam. Mendaki atau menyusuri tanjakan atau turunan. Intinya, kawasan ini cocok bagi siapa saja yang suka bertualang.


Lokasi gunung ini hanya sekitar 9 kilometer di sebelah timur Kota Singkawang. Biasanya pada bulan November sampai Januari, orang banyak berkunjung. Kenapa?


Karena pada bulan-bulan itu, penduduk desa menyediakan pondok-pondok tempat mereka menunggui buah durian jatuh. Para pengunjung yang hobi makan buah durian bisa menikmatinya sambil memandang berbagai panorama yang indah di sini.


Ternyata, kawasan ini termasuk dalam hutan Cagar Alam dengan luas 3.700 hektare. Statusnya sebagai cagar alamditetapkan sesuai SK Menteri Kehutanan Nomor 111/Kpts-II/1990 pada tanggal 20 Mei 1978. Gunung ini memiliki ketinggian 725 meter di atas permukaan laut. (*)

Minggu, 06 Maret 2016

San Keuw Jong alias Singkawang

San Keuw Jong alias Singkawang

Kota Singkawang jaman dulu. Foto: caraonline.blogspot.com
Oleh: Sv. Endi

Seperti apa sih sejarah singkat Kota Singkawang? Begini ceritanya.

Menurut catatan sejarah, dulunya Singkawang disebut "San Keuw Jong". Kota ini merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Barat. Jaraknya dari Pontianak sebagai ibu kota provinsi sekitar 145 kilometer.

Kota Singkawang dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka. "San khew jong" berarti kota yang berada di bukit dekat laut.

Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas yang bernama Desa Singkawang. Desa ini menjadi tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado.

Para penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari negeri China. Jadi, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang.

Para penambang emas di Monterado yang sudah lama ada, sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya. Singkawang juga dikenal sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas.

Waktu itu, orang Tionghoa menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka). Sebab, mereka menganggao Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna, serta terdapat pengunungan dan sungai, yang airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut.

Karena perkembangan Singkawang yang dinilai cukup menjanjikan, para penambang ini beralih profesi. Ada yang menjadi petani dan pedagang. Pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang. (*)
Inilah kami

Inilah kami

Bermula dari pelatihan menulis di dekat Rumah Novisiat Kapusin "Santo Padre Pio" di Poteng dekat Singkawang, Kalimantan Barat, kami membuat blog ini. Kami namakannya PotengSip. "Sip" artinya mantap! Dari tempat ini kami mulai berlatih menulis, dan berkomitmen untuk terus aktif berbagi pengalaman dengan setiap orang. Tanggal 9 Maret kami nyatakan sebagai hari lahirnya blog ini. Kontak kami di: potengsip@gmail.com