GEREJA KATOLIK ST. PADRE PIO STASI POTENG


Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Oktober 2017

13 Kutipan Santo-Santo Tentang Kekuatan Doa Rosario

13 Kutipan Santo-Santo Tentang Kekuatan Doa Rosario

13 Kutipan Santo-Santo Tentang Kekuatan Doa Rosario


Kutipan Santo-Santo Tentang Rosario Ini Mengungkapkan Kekuatan Supernatural Rosario, Sebagai orang Katolik, mungkin kita menganggap remeh mengenai doa rosario.

Namun, kita perlu belajar dari para santo santa yang mengalami bahwa doa rosario membuat mereka lebih dekat dengan Allah sehinggah tercermin dalam hidup harian mereka. Berikut ini, kutipan-kutipan mereka yang mengungkapkan kekuatan doa yang sederhana itu.

1)"Berikanlah kepadaku sebuah sekutu tentara yang mendoakan rosario, dan Aku akan menaklukkan dunia."-Paus Bl. Pius IX

2) "Rosario adalah "senjata" masa kini."-Santo Padre Pio

3) "Rosario kudus adalah sebuah senjata yang paling ampuh. Gunakanlah itu dengan penuh keyakinan dan kamu akan terkagum-kagum atas hasilnya."-Santa Josemaria Escriva

4) "Doa rosario adalah doa yang paling indah dan yang paling kaya akan rahmat dari semua doa; Doa yang paling tepat menyentuh Hati Bunda Allah...dan jika dikau menghendaki kedamaian menyelimuti rumahmu, doakanlah rosario keluarga."-Paus Santo Pius X

5) "Rosario adalah senjata yang peling ampuh melawan kuasa iblis dan menjaga dirimu dari kuasa dosa...Jika Engkau menghendaki kedamaian di hatimu, di rumahmu, di negaramu, berkumpullah setiap malam untuk berdoa rosario."-Paus Santo Pius X

6)"Betapa indahnya sebuah keluarga mendoakan rosario setiap malam!"-Paus Santo Paulus II

7) "Rosario adalah sebuah harta karun yang paling berharga diinspirasikan oleh Allah."-Santo Louis De Monfort

8) "Pergilah ke Bunda Maria. Cintailah dia! Tak henti-hentinya berdoa rosario. Katakanlah dengan bijak. Katakanlah sebisa mungkin! Jadilah itu sebagai jiwa dari doa. Janganlah pernah lelah akan berdoa, karena hal itu paling penting. Doa mengguncangkan Hati Allah, itu berisikan rahmat-rahmat yang diperlukan!"-Santo Padre Pio

9) "Metode terbesar dari doa adalah berdoa rosario."-Santo Fransiskus de Sales

10)"Rosario adalah cambuk yang membuat setan menderita."-Paus Adrian VII

11) "Jika ada sejuta keluarga yang beroa rosario setiap hari, seluruh dunia akan selamat."-Paus Santo Pius X

12) "Doa rosario merupakan bentuk doa yang luar biasa dan sarana yang paling efektif untuk mencapai hidup kekal. Itu adalah tebusan untuk perbuatan jahat kita, akar dari segala berkat. Tidak ada cara lain yang terbaik untuk berdoa."-Paus Leo XIII

13) "Rosario adalah suatu sekolah untuk belajar kesempurnaan Kristiani."-Paus Santo Yohanes XXIII

Semoga kutipan-kutipan tersebut berguna dalam peziaraan iman kita sebagai umat Katolik terutama selama bulan suci rosario Oktober ini. Salam dan doa.

Sumber:churchpop.com

Selasa, 19 Juli 2016

MENGISI KEGIATAN REKOLEKSI SISWA/I BARU TA 2016/2017 SMP ST. ALOYSIUS GONZAGA, PERSEKOLAHAN KATOLIK NYARUMKOP

MENGISI KEGIATAN REKOLEKSI SISWA/I BARU TA 2016/2017 SMP ST. ALOYSIUS GONZAGA, PERSEKOLAHAN KATOLIK NYARUMKOP




Bertempat di Aula Asrama Timonong, SMP Santo Aloysius Gonzaga, Persekolahan Katolik Nyarumkop, pada hari Sabtu - Minggu, 16-17 Juli 2016, Orang Muda Katolik St. Padre Pio Poteng mengisi kegiatan Rekoleksi untuk Siswa/i baru tahun angkatan 2016/2017 SMP Santo Aloysius Gonzaga, Nyarumkop bersama Pr. Gabriel Marcel atau yang biasa lebih akrab disapa dengan “Pastor Gabi”.

Rekoleksi yang berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh kurang lebih 52 siswa/i baru ini diisi dengan kegiatan Outbond, Fun Games dan acara inti yaitu pembekalan dari pastor Gabi kepada siswa/i baru SMP St. Aloysius Gonzaga, Nyarumkop.

Kegiatan yang merupakan rangkaian dari kegiatan Masa Orientasi Sekolah “MOS” yang diadakan oleh sekolah ini sangat antusias diikuti oleh siswa/i baru tahun angkatan 2016/2017, karena dengan diadakan kegiatan rekoleksi ini siswa/i bisa bermain dan bernyanyi bersama, dapat mengenal satu sama lain, mengembangkan kreativitas dan kekompakan didalam hal-hal positif dan mendapatkan pembekalan rohani sebelum mereka memulai kegiatan belajar mengajar di sekolah, dimana mereka diharapkan dapat menjadi siswa/i yang berprestasi dan membanggakan dikemudian hari. (Oleh : Florensius Juwelli) 


 
Bernyanyi bersama siswa/i SMP St. Aloysius Gonzaga

 Pr. Gabriel sedang memberikan materi rekoleksi

 Pr. Gabriel sedang memberikan materi rekoleksi

 Permainan outbond "stick magic"


 Permainan outbond "estafet air menggunakan piring"


 Permainan outbond "estafet karet gelang"

Permainan outbond "memasukan paku dalam botol berkelompok"

Rabu, 16 Maret 2016

Bartolomeus, frater berjambul Neymar.

Bartolomeus, frater berjambul Neymar.

Oleh Welli, 09 Maret 2016

Bartolomeus namanya. Frater yang lebih akrab dengan panggilan Bu'u. Adalah salah satu dari tiga orang biarawan yang saat ini sedang menempuh pendidikan biarawannya di Novisiat Kapusin Stasi Poteng, Singkawang Timur, Kalbar.

Frater yang berasal asli dari flores ini mempunyai makanan kesukaan "tempoyak" yaitu makanan khas suku dayak yang terbuat dari buah durian yang di permentasi dan diolah menjadi lauk.

Model rambut frater ini sangat mirip dengan seorang pemain sepakbola Barcelona FC yaitu "Neymar Jr" yang diakuinya sebagai idolanya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini memiliki hobi berolahraga. Ketertarikannya untuk menjadi seorang Frater/biarawan sangat sederhana, karna iya melihat orang yang mengenakan "jubah" itu keren.

Dari situlah iya memutuskan untuk menjadi seorang biarawan. Dan hingga sekarang Frater Bartolomeus masih menempuh pendidikan biarawannya bersama dua saudara kapusinnya.

Bartolomeus (20), seorang frater berjambul Neymar yang sedang menempuh pendidikan di biara Novisiat Kapusin Padre Pio Poteng, Singkawang, Kalbar.

Jumat, 11 Maret 2016

Horeee, Masuk Koran!

Horeee, Masuk Koran!

Oleh Sv. Endi

Teman-teman, kegiatan pelatihan menulis di Novisiat Kapusin "St Padre Pio" Poteng, dimuat di koran Pontianak Post edisi Jumat (11 Maret 2016). Bagi teman-teman yang mungkin tidak sempat beli korannya, berikut ditampilkan capture-nya.

Mudah-mudah bisa dibaca ya. Ayo, teruslah berlatih, berlatih, dan berlatih menulis. Hanya dengan cara itu, Anda bisa menjadi seorang penulis.

Tak ada jalan pintas. Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya...

Rabu, 09 Maret 2016

Bartolomeus Frater Berambut jambul Neymar

Bartolomeus Frater Berambut jambul Neymar

 Bartolomeus (20), seorang frater berjambul Neymar yang sedang menempuh pendidikan di biara Novisiat Kapusin Padre Pio Poteng, Singkawang, Kalbar.

Oleh: Welli (9/3/16)
Bartolomeus namanya. Frater yang lebih akrab dengan panggilan Bu'u. Adalah salah satu dari tiga orang biarawan yang saat ini sedang menempuh pendidikan biarawannya di Novisiat Kapusin Stasi Poteng, Singkawang Timur, Kalbar.

Frater yang berasal asli dari flores ini mempunyai makanan kesukaan "tempoyak" yaitu makanan khas suku dayak yang terbuat dari buah durian yang di permentasi dan diolah menjadi lauk.
Model rambut frater ini sangat mirip dengan seorang pemain sepakbola Barcelona FC yaitu "Neymar Jr" yang diakuinya sebagai idolanya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini memiliki hobi berolahraga. Ketertarikannya untuk menjadi seorang Frater/biarawan sangat sederhana, karena iya melihat orang yang mengenakan "jubah" itu keren.


Dari situlah iya memutuskan untuk menjadi seorang biarawan. Dan hingga sekarang Frater Bartolomeus masih menempuh pendidikan biarawannya bersama dua saudara kapusinnya.
Bertemu Frater Taus

Bertemu Frater Taus

Oleh: Budi Miank

Saya lebih senang memanggilnya Frater Taus. Lebih akrab saja dengan panggilan itu. Tapi di Biara Novisiat Kapusin Gunung Poteng, dia dipanggil Frater Laurens, yang diambil dari nama lengkapnya Laurensius Hartanto.

Saya bertemu Frater Taus di Biara Novisiat Kapusin Gunung Poteng pada Rabu pagi, 9 Maret 2016, saat sebagian besar orang Indonesia berburu melihat gerhana dan orang-orang Hindu merayakan Nyepi. Di Gunung Poteng, pagi itu, kami tak bisa menikmati gerhana matahari total. Matahari tak hadir di gunung karena mendung yang cenderung gerimis. Bahkan puncak Gunung Poteng tak terlihat karena kabut yang menutupinya.

Oh ya, saya datang ke Biara Novisiat Kapusin Gunung Poteng atas undangan Pastor Gabriel Marcel OFM Cap. Dia mengajak berdiskusi dengan orang muda Katolik dan beberapa frater tentang dunia tulis menulis. Saya datang ditemani dua kawan lain: Severianus Endi dan Basilius Andreas Gas.

Kami tiba di Biara Novisiat Kapusin pukul lima pagi. Endi kemudian menghubungi Pastor Gabriel Marcel OFM Cap, memberitahukan kalau kami sudah tiba di biara. Tak lama berselang, seorang frater datang menghampiri. Kami saling tegur sapa. Para Novis sudah bersiap hendak misa pagi, rutinitas yang selalu mereka lakukan setiap hari. Saya dan dua teman tadi, disambut tiga frater dan tiga pastor.

Saat berjalan menuju kamar istirahat, saya bertemu seseorang yang perawakannya begitu dikenal. Ya, dia Taus. Eh, dia Kenakan jubah coklat, jubah khas kapusin. Saya tidak kaget sebenarnya karena sudah dapat informasi soal pilihannya untuk hidup membiara. Tahun 2015, seorang teman mengabarkan hal itu. Tapi saya tak menduga kalau hari ini bertemu dengannya, setelah tidak berjumpa sejak tamat dari Asrama Sepakat Dua di Pontianak tahun 2001.

Tak ada yang berubah. Kami tetap saling kenal, bahkan cenderung lebih heboh pertemuannya.

"Eh, Taus," kata saya seraya menjabat tangannya.

Dia tersenyum. Lebih pasnya tertawa. Tetap dengan gayanya ketika masih sama-sama di asrama dulu. Yang berubah hanya postur tubuh. Dia sudah agak berisi. Agak gemuk. Kulit lebih putih. Mungkin sudah tidak pernah main sepakbola di lapangan becek di bawah terik matahari.

"Kok masuk kapusin, kan dulu tinggal di asrama MTB," saya menggodanya.

Taus hanya terkekeh. Ia kemudian pamit untuk mengikuti misa pagi. Saya pun masuk ke kamar istirahat. Sekadar meluruskan pinggang.

Foto di atas diambil saat bertemu Frater Taus di Biara Novisiat Kapusin Gunung Poteng pada 9 Maret 2016. (*)

Di Poteng, Kami Belajar Menulis Bersama

Di Poteng, Kami Belajar Menulis Bersama

Oleh: Sv. Endi

Pagi sudah menjelang pukul 05.00 Wib, ketika mobil yang kami tumpangi memasuki area Rumah Novisiat Kapusin "Santo Padre Pio" di kawasan dekat Gunung Poteng di ujung Singkawang, Kalimantan Barat. Kami berangkat dari Pontianak pada pukul 00.00.

Pada subuh begitu, penghuni Rumah Novisiat atau pusat pendidikan calon imam Kapusin itu sedang bersiap untuk misa pagi di kapel mereka. Kelebat sosok mereka dalam balutan jubah cokelat bergerak di subuh yang sejuk.

Hari Rabu, 9 Maret 2016 itu, saya bersama dua rekan jurnalis yaitu Budi Miank dan Bas Andreas dari Pontianak Post, diundang untuk memberikan pelatihan jurnalistik praktis di tempat itu. Sejatinya pada hari ini, ada fenomena alam berupa gerhana matahari yang terjadi sekitar pukul 06.30.

Namun awan yang pekat membuat kami tak bisa menyaksikan fenomena langka ini. Baiklah, kami mau fokus pada kegiatan yang diberi judul "belajar menulis bersama".

Magister Novisiat Kapusin, Pastor Gabriel Marchel OFM Cap, mengundang kami untuk berbagi pengalaman menulis dan fotografi.

Ada 3 pastor dan 3 frater yang tinggal di tempat itu. Usai mereka misa pagi, kami sebagai tamu diajak sarapan di ruang makan yang luas sambil berbincang ringan.

Peserta pelatihan berjumlah 20 orang, 3 di antaranya merupakan frater atau calon pastor dari Ordo Kapusin, dan lainnya adalah anggota organisasi Orang Muda Katolik (OMK) setempat.

Ini merupakan kali pertama saya berkunjung ke tempat ini. Untuk mengenangnya, saya tulis sebuah puisi dengan judul "Subuh Poteng"

Kujumpai Poteng dalam remang subuh
Para lelaki berkelebat dalam jubah cokelat
Kutapaki rumah novosiat dalam remang subuh
Dalam aura sunyi penuh berkat

Aku di Poteng, bisikku pada letih tubuh
Kujumpai pria-pria itu dengan jabat erat
Aku di Poteng, gumamku pada hari yang jauh
Sejenak menyepi dari berisik kota mencekat

Pohon-pohon, embun-embun, dan gunung yang teguh
Rumah tenang di tengah hutan keramat
Kujejaki setiap langkah menghalau jiwa keruh
Di Poteng, aku ingin berjumpa berbongkah semangat

*Rumah Novisiat Kapusin Poteng, Singkawang, Rabu 9.3.16. Poteng adalah nama gunung unik yang puncaknya menyerupai jari jempol.
Aku penasaran dengan kegiatan jurnalistik

Aku penasaran dengan kegiatan jurnalistik

Oleh Victoria Emy

Saya guru matematika. Nama saya Victoria Emy. Umur 22 tahun. 

Saya mengajar di salah satu sekolah swasta di Singkawang. 
 
Saya tertarik mengikuti kegiatan jurnalistik yang diselengarakan di novisiat poteng. 

Saya dari jurusan matematika tapi saya berminat mengikuti kegiatan ini. 

Karena bisa menambah pengalaman baru.

Dan ada beberapa kegiatan yang bisa dijadikan topik Untuk jurnalistik ini.

Misalnya jurnalistik tentang kehidupan warga dilingkungan sekitar.

Gambar diatas teman saya saat sedang membaca tulisan dari kami yang ikut acara pelatihan jurnalistik di Novisiat Biara Poteng (Rabu, 9/03/2016)

Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Selasa, 08 Maret 2016

Di Mana Simpang Poteng

Di Mana Simpang Poteng

Oleh: Budi Miank 

Akhir Februari 2011, kami memulai sesuatu yang baru. Orang bilang, punya dua rumah atau dua dapur. Dua-duanya harus berasap, untuk menyebut bahwa kehidupan ekonomi rumah tangga bertumbuh. 

Kami harus merelakan status sebagai, yang kata anak zaman sekarang, long distance relationship. LDR, begitu anak-anak alay itu membuat akronimnya.

Saya, istri, dan anak-anak harus berpisah. Saya tetap di Pontianak, sedangkan istri dan anak-anak di Nyarumkop. Kami berpisah karena istri bekerja di Rumah Sakit Jiwa Singkawang. 

Jadi, ada dua tahun saya harus bolak balik Pontianak - Nyarumkop. Setiap Sabtu pagi, menunggu jemputan taksi di tangga kantor tempat saya bekerja.

Balik lagi ke Pontianak, pada Senin siang sekitar pukul 13.00, dengan taksi yang sama. Melelahkan memang.

Dan, selama dua tahun itu, saya tak tahu simpang menuju poteng.

Foto di atas diambil saat senja di Nyarumkop.

Senin, 07 Maret 2016

Poteng, Gunung Berpuncak Unik di Kalimantan Barat

Poteng, Gunung Berpuncak Unik di Kalimantan Barat

Gunung Poteng. Foto dari travelmatekamu.com
Ciri khas yang sangat unik yang dimiliki Gunung Poteng ini berupa puncaknya yang dari kejauhan mirip jari jempol. Gunung ini berada di Kalimantan Barat, tepatnya dekat Kota Singkawang.


Selain bentuk puncaknya yang unik itu, gunung memiliki berbagai kekayaan lain yang sangat menarik untuk disaksikan. Ada berbagai tumbuhan indah seperti jenis anggrek, juga ada satwa langka seperti beruang madu, trenggiling, dan landak.


Karena itu, Gunung Poteng menjadi satu di antara tujuan wisata khususnya bagi orang yang suka melakukan jelajah alam. Mendaki atau menyusuri tanjakan atau turunan. Intinya, kawasan ini cocok bagi siapa saja yang suka bertualang.


Lokasi gunung ini hanya sekitar 9 kilometer di sebelah timur Kota Singkawang. Biasanya pada bulan November sampai Januari, orang banyak berkunjung. Kenapa?


Karena pada bulan-bulan itu, penduduk desa menyediakan pondok-pondok tempat mereka menunggui buah durian jatuh. Para pengunjung yang hobi makan buah durian bisa menikmatinya sambil memandang berbagai panorama yang indah di sini.


Ternyata, kawasan ini termasuk dalam hutan Cagar Alam dengan luas 3.700 hektare. Statusnya sebagai cagar alamditetapkan sesuai SK Menteri Kehutanan Nomor 111/Kpts-II/1990 pada tanggal 20 Mei 1978. Gunung ini memiliki ketinggian 725 meter di atas permukaan laut. (*)

Minggu, 06 Maret 2016

San Keuw Jong alias Singkawang

San Keuw Jong alias Singkawang

Kota Singkawang jaman dulu. Foto: caraonline.blogspot.com
Oleh: Sv. Endi

Seperti apa sih sejarah singkat Kota Singkawang? Begini ceritanya.

Menurut catatan sejarah, dulunya Singkawang disebut "San Keuw Jong". Kota ini merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Barat. Jaraknya dari Pontianak sebagai ibu kota provinsi sekitar 145 kilometer.

Kota Singkawang dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka. "San khew jong" berarti kota yang berada di bukit dekat laut.

Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas yang bernama Desa Singkawang. Desa ini menjadi tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado.

Para penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari negeri China. Jadi, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang.

Para penambang emas di Monterado yang sudah lama ada, sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya. Singkawang juga dikenal sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas.

Waktu itu, orang Tionghoa menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka). Sebab, mereka menganggao Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna, serta terdapat pengunungan dan sungai, yang airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut.

Karena perkembangan Singkawang yang dinilai cukup menjanjikan, para penambang ini beralih profesi. Ada yang menjadi petani dan pedagang. Pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang. (*)
Inilah kami

Inilah kami

Bermula dari pelatihan menulis di dekat Rumah Novisiat Kapusin "Santo Padre Pio" di Poteng dekat Singkawang, Kalimantan Barat, kami membuat blog ini. Kami namakannya PotengSip. "Sip" artinya mantap! Dari tempat ini kami mulai berlatih menulis, dan berkomitmen untuk terus aktif berbagi pengalaman dengan setiap orang. Tanggal 9 Maret kami nyatakan sebagai hari lahirnya blog ini. Kontak kami di: potengsip@gmail.com